Saturday, October 6, 2012

dua kisah sedih


hiro, kucing manisku yang nakal meninggalkan keluarga kami saat fajar 16 agustus lalu. ia menarik nafas terakhirnya di hadapanku setelah sehari sebelumnya didiagnosis menderita leptospirosis. kata dokter ginjalnya bengkak hingga ia tidak mampu mengontrol bladder-nya dan pipis dalam tidur. ia terlihat payah tak mampu bergerak dan harus dicekoki unyuk menelan makanan cair dan susu. ia diam dengan mata terbuka lebar seperti biasanya seperti ingin bermain. kata dokter jika tiga hari kemudian hiro mampu bertahan, penyakitnya mungkin untuk disembuhkan.

kami begitu bersemangat mendengar kemungkinan itu. kami cekoki ia susu dan makanan cair juga obat. ia memberontak dengan lemah tapi kami ingin ia sembuh. setelah itu ia hanya diam dengan mata terbuka atau tidur dan pipis. kami ganti alas tidurnya yang basah berkali kali karena ia tak mampu untuk pergi ke kotak pasirnya. kami mengeluarkannya dari kotak tidurnya yang sempit karena nafasnya sesak dan berat. kadang ia merangkak dengan payah mencari tempat gelap untuk istirahat. kami senang ia bergerak. kami senang ia menelan obatnya dan memujinya juga mendorongnya dengan kata-kata penyemangat.

tapi rupanya Allah berkehendak lain dari yang kami inginkan. begitu berbeda dari yang kami harapkan. setelah sholat shubuh kami beri hiro makanan cair. kuangkat tubuhnya yang lemah ke pangkuan dan kubuka mulutnya. ku cekoki ia makanan. ia tidak memberontak tapi tidak juga menelan. makanan cairnya mengalir lagi dari sisi bibirnya. aku terus mencoba tapi hiro tetap tidak menelannya. kubersihkan ceceran makanannya yang mengotori sekitar mulutnya dan kuturunkan ia dari pangkuan ke lantai. tiba-tiba hiro terbatuk-batuk seperti tersedak. aku dan adikku panik. aku menepuk nepuk punggungnya dengan pelan. tapi ia tidak berhenti terbatuk-batuk dan malah sesak nafas. aku mulai memanggil manggil ummi dan abi dengan ketakutan.

ummi dan abi keluar kamar dengan bergegas setelah mendengar teriakanku. hiro semakin susah menarik nafas. berat sekali seperti ada yang mencekiknya. melihat keadaan hiro, abi langsung bergumam, "sekarat ya." mendengar gumaman abi aku langsung menangis histeris. adik-adikku juga ummi ikut menangis. tiba tiba hiro diam. aku ikut diam seperti menunggu nunggu keajaiban, tapi ia tetap tidak bergerak. lalu hiro tersentak bernafas lagi namun tidak lama hingga akhirnya ia menarik nafas panjang yang berat dan terdengar sangat memilukan hingga membuat tubuhnya mengeras mengejang lalu ia diam. tubuhnya yang kaku melonggar hingga akhirnya ia terbaring di situ, lemah tak bernyawa.

kami menangis meratapi kepergian hiro, meramaikan shubuh yang sepi. aku seperti biasa menangis dengan suara keras sambil memegangi mata dan mulut hiro agar mereka tertutup. aku benar benar merasa kecewa dengan hal ini. benar benar kecewa hingga ke awal-awalnya permasalahan ini. seharusnya hiro dibawa ke dokter lebih awal. seharusnya hiro tidak usah keluar keluar dari rumah. seharusnya sejak awal hiro tidak diperbolehkan keluar dari rumah. seharusnya...


ayu, sahabat cantikku yang cerewet meninggalkanku siang hari di 16 september lalu. ia menarik nafas terakhirnya ketika aku tengah berkutat mengerjakan tugas yang harus dikirim beberapa menit lagi. kala itu aku kesal setengah mati mengerjakan tugas yang hampir deadline dan tiba tiba sms dari seorang teman masuk. ia menyuruhku membaca twitt-nya tapi aku tidak begitu mempedulikannya karena sibuk dengan tugasku. tapi kemudian aku terdorong untuk mencari tahu.

aku membeku ketika berhasil menelusuri twitt janggal temanku. aku mendengus tak percaya (atau tak mau percaya?), tapi langsung menelfon nomor handphone ayu. dering terdengar beberapa kali bersahutan dengan degup jantung yang tanpa bisa ditahan frekuensinya menjadi dua kali lebih cepat. kemudian seseorang di seberang sana mngangkat telefon,

"yu?" sapaku.

"halo" jawab suara lelaki tak dikenal.

aku membeku dan sejenak seperti kehilangan denyut jantungku sendiri hingga akhirnya ia menemukan ritmenya lagi ketika suara pria di seberang sana menyapa lagi,

"halo?"

aku segera menjawab tapi yang keluar dari mulutku malah gagap,

"eh itu ayu. ayu mana? ayunya di mana?"

"halo?"

"halo?'

"halo?halo?"

"halo?!?!?"

aku menutup telfon dengan frustasi. aku kembali ke laptopku setelah sebelumnya menanyakan perihal tersebut lewat sms ke teman yang memberitahuku. kukirim tugasku dengan cepat tanpa mempedulikan kelengkapan isi dan langsung menelusuri lagi timeline orang yang membicarakan ayu. semakin aku menelusuri, informasinya semakin jelas, tapi aku tidak mau percaya begitu saja. kuhubungi lagi ponsel ayu,

"halo?" sapaku sambil berharap setengah mati kalau kali ini ayu akan menjawab dengan suara cemprengnya.

"halo." suara laki-laki yang tadi lagi.

aku tercekat sesaat tapi langsung menyambung dengan terbata-bata, menanyakan perihal ayu.

"jenazahnya sudah dibawa ke rumah sakit" jawab lelaki itu.

aku bengong, "oh iya. terimakasih" jawabku datar dengan pikiran-pikiran lain berkecamuk dalam otakku.

aku memutus sambungan telefon dan terduduk di kasur. tidak percaya. benar benar tidak percaya, tapi sebagian otakku yang lain mempercayainya dan membuat air mataku mengalir. aku langsung tersenggal karena menahan tangis, namun tetap tak kuasa hingga tangisku pecah jadi ratapan. satu persatu air mataku mengalir, susul menyusul satu sama lain. dan tangisanku meramaikan gedung kosanku yang lengang.

kemudian satu persatu orang orang menelfonku. menanyakan seratus kali pertanyaan yang sama, yang semuanya kujawab dengan tangisan. aku tak kuasa melisankan bahwa salah satu kawan terbaikku, ayu andriani telah tiada.


kutoleh ia yang sudah rapi terbungkus kain kafan, batik, dan tikar bambu. tak ada air mata yang keluar, sama persis seperti ketika aku mengantarkan kepergian orang-orang tercinta yang telah lebih dahulu meninggalkanku. aku kuat, setidaknya cukup kuat untuk menyembunyikan tangisku agar ia tidak terlalu berat meninggalkan kami. aku bahagia, setidaknya cukup bahagia memiliki orang-orang tercinta yang disayang Allah sehingga dipanggil mendahului kami. maka aku mengantarkan ia ke liang kuburnya tanpa tangis.

tapi tetap saja kepergiannya meninggalkan banyak kekecewaan. kekecewaan yang sama seperti saat kepergian orang-orang tercinta yang lain. begitu banyak penyesalan-penyesalan yang muncul. kenapa aku begitu menyia-nyiakan waktu bersamanya? kenapa aku tidak bisa mengungkapkan rasa sayangku padanya dengan wajar? kenapa aku tidak pernah membahagiakannya, malah membuatnya kesal? kenapa aku tidak berusaha lebih peduli pada cerita-ceritanya? kenapa aku menomorsatukan kemalasanku dibanding menghabiskan quality time bersamanya? KENAPA AKU MENOLAK AJAKANNYA UNTUK MEMPERINGATI HARI ULANG TAHUN YANG TERNYATA ULANG TAHUN TERAKHIRNYA??

namun semuanya terlalu terlambat untuk dapat diperbaiki lagi. ayu sudah pergi dari dunia ini. aku hanya bisa menyesali semuanya dalam-dalam dan terluka setiap kali teringat tentangnya..

kedua makhluk yang kucintai ini meninggalkanku benar benar dalam jangka waktu yang berdekatan. tepat satu bulan pada tanggal 16 agustus dan september. mengingat hal ini aku terus menerus berharap tidak akan kehilangan siapa-siapa lagi di 16 oktober mendatang..