Monday, March 25, 2013

lesson 4: jangan sok tahu

sejak dulu kala gue itu orangnya sok tahu. ngak tahu kenapa kalo orang nanya tapi gue gak tahu jawabannya pasti tetep gue jawab dengan kesoktahuan gue. contohnya waktu sd dulu gue punya komik sindbad 1001 malam yang edisi lawak. terus di dalem komik itu ada adegan kapal bajak lautnya tenggelam terus salah satu awaknya malah nyanyi 'my heart will go on'. lirik yang ada di komik itu ya cuman itu aja. nah adik gue yang cewek, si khodi, nanya itu gimana nyanyinya.

gue saat itu gak tahu itu lagu apaan. tapi dengan kesoktahuan gue gue jawab gini: itu lagu yang ini loh. my heart will go oooon (nyanyi dengan nada i have a dream).

dan adik gue itu percaya.

barulah bertahun-tahun berikutnya setelah kami tahu kalo itu ternyata lagu my heart will go on-nya Celine Dion yang soundtrack-nya Titanic itu, adik gue baru mengetahui kesoktahuan gue.

bukan itu aja. waktu baru masuk sma, pulang pulang dari sekolah pas hari terakhir mos, gue cerita ke adik gue yang itu lagi, si khodi:

"dik, masa grup cheerleader di sekolahku juara di Nepal (nama salah satu negara di Asia Selatan yang bendera negaranya segitiga segitiga itu). gila, keren banget kan cheerleader aja bisa sampe kayak gitu."

adik gue saat itu terkagum kagum dengan pengumuman gue itu.

setelah beberapa bulan, sma 3 kota tangsel yang biasa disebut nipam ngadain acara tahunan sekolahnya dan namanya itu Nepal Cup. WOW. gue saat itu menyadari kalau ternyata gue selama ini salah kaprah tentang grup cheerleader sekolah gue yang juara di Nepal. ternyata Nepal cup itu adalah acara tahunan sebuah SMA di pamulang dan grup cheerleader sekolah gue sama sekali gak pernah lomba apa lagi jadi juara di Nepal.

kira kira begitulah kesoktahuan gue. dan saat ini gue juga lagi tersiksa oleh kesoktahuan gue yang paling sering, yaitu kesoktahuan dalam pelajaran.

jadi gue lagi ada proyek uts buat tekomars tentang mengkomunikasikan tangga. terus gue dengan sok tahunya gak nyatet apa apa terus pulang je rumah buat weekend. terus sekarang gue mau ngerjain jadi gak punya ide apa-apa buat ngerjainnya karena gue sok tahu kalo gue udah afal bentuk tangganya kayak gimana dan gue sok tahu kalau bisa nanya nanya aja ke temen tentang detailnya yang gue miss. kenyataannya malah kayak gini. udah sering banget sih, tapi entah kenapa gue gak kapok kapok karena gue pasti selalu lupa kejadiannya.

jadi, lu semua sebaiknya jangan sok tahu.

Saturday, March 16, 2013

aku dan kedondong

kali pertama aku mengenal buah bernama kedondong adalah ketika dulu sekali. aku masih seorang anak kecil yang banyak tidak tahu dan selalu ingin tahu. waktu itu sudah lama sekali sehingga hanya sepotong sepotong scene saja yang kuingat. pergi jalan-jalan ke suatu daerah di pegunungan bersama keluargaku dan teman-teman mengaji orangtuaku, menginap di sana di dalam sebuah villa yang dulu aku pikir adalah sebuah puri tua yang disekelilingnya terhampar padang rumput yang luas.

tapi benar di sana ada padang rumput yang cukup luas tempat aku waktu itu menangkap belalang-belalang kecil, cokelat dan hijau, yang kukumpulkan di dalam gelas plastik yang sudah kosong. lalu aku dan adikku melakukan permainan 'lepas-tangkap' dengan belalang belalang kecil itu. kami biarkan belalang belalang kecil itu berlompatan, lalu kami akan tangkap kembali. kekuatan anak kecil yang bersemangat menangkapi belalang belalang kecil itu sangat tidak terkendali hingga belalang belalang kecil itu terpaksa mati. kedengaran sadis memang, tapi begitulah. saat itu kami senang sekali melakukannya.

lalu kalau ingatanku tidak salah -biasanya salah, di padang rumput itu ada pohon yang berukuran sedang-sedang saja, tidak menarik, dan baunya seperti ia tidak mandi seharian. maksudku, baunya kecut. ternyata bau itu berasal dari buah-buah jelek berwarna hijau dan seperti berpenyakit kulit yang bergelantungan di dahannya. ukurannya lebih besar sedikit daripada telur dan pas berada di genggaman. menemukannya, aku yang kecil itu langsung meraih buah itu dan memetiknya beberapa buah, sebanyak yang tangan anak kecil bisa pegang.

tapi aku tidak memakannya. aku hanya terlalu penasaran dengan buah hijau itu sehingga merasa harus memetiknya. mungkin saat itu aku berfikir buah itu adalah famili buah khuldi yang membuat Adam terusir dari surga, atau buah hijau itu memiliki racun yang mematikan sehingga aku tidak berani memakannya. aku lalu membawa buah buah itu di tanganku menuju puri tua dan menemui ibuku. kutanyakan perihal buah tersebut, dan ibuku bilang namanya adalah kedondong.

nama yang aneh, tapi terdengar akrab. maksudnya, kedondong adalah nama yang terdengar seperti orang bodoh dan tidak terkesan berbahaya. coba kau sebut nama buah khuldi, kau pasti mendengar sesuatu yang terkesan licik. kau sebut buah tomat, pasti kau mendengar sesuatu yang lucu dan menarik. apa kau tidak berfikir begitu? pokoknya saat itu kesimpulannya adalah buah hijau itu aman. lagipula kalau berbahaya pasti ibuku akan langsung menjatuhkannya dari tanganku dan melarangku untuk menyentuhnya apalagi memakannya.

jadi aku mencoba memakannya. kugigit kulitnya yang seperti berpenyakit itu, tapi rasanya agak pahit dan keras sekali. jadi kucoba untuk mengupasnya dengan kuku, tapi justru kukuku yang sakit. lalu seseorang, entah siapa, memberitahuku cara untuk memakannya. dijepit di pintu. kuikuti sarannya, dan benar saja buah itu segera remuk hingga bagian dalamnya kelihatan dan bisa dimakan. segera saja, aku menyukai buah itu. aku menikmati meremukkan dirinya di pintu, karena akan ada suara segar yang keluar dan lebih baik lagi,  tidak ada darah atau usus keluar hingga aku tidak perlu merasa bersalah telah meremukkannya. biar kuberi tahu caranya:

1. cari pintu yang terbuka,
2. letakkan buah kedondong di antara daun dan bingkai pintu (bagian di mana mereka disambungkan oleh engsel pintu)
3. tutup pintunya

dan ketika aku memakannya, akan ada rasa kecut yang unik dan itu membuatku semakin menyukainya. sejak saat itu aku sangat menyukai buah kedondong.

kau pasti bertanya-tanya bagaimana bisa tiba-tiba soal buah kedondong muncul di pikiranku hingga aku menuliskannya di sini. yah, walaupun kau tidak bertanya-tanya, kuberi tahu jawabannya: di rumahku sedang ada sekantong plastik penuh buah hijau berkudis itu dan keberadaannya mengingatkanku soal cerita saat aku pertamakali menemukannya.

lalu apa poin-ku menuliskannya di sini? apakah buah kedondong sebegitu pentingnya dalam hidupku hingga aku merasa perlu menuliskannya di sini? sebenarnya tidak juga, yang ingin kusampaikan dari cerita ini adalah: kesan pertama sangat berpengaruh dalam sebuah pertemuan, namun ada yang lebih mempengaruhi dalam membuat pertemanan, yaitu adalah keinginan untuk mengenal. buah kedondong yang bertampang jelek awalnya membuatku berfikir ia mungkin berbahaya, tapi setelah bertanya dan mengeksplorasi buah kedondong lebih jauh, ternyata aku menyukainya. begitulah.

jadi mungkin saja di kehidupanmu nanti kau akan bertemu seseorang yang istimewa dan kau akan mengenang pertemuan pertama kalian seindah pertemuanku dengan buah kedondong. baiklah, bahkan aku tidak tahu kisah pertemuanku dengan buah kedondong apakah benar-benar sehebat itu, karena terkadang aku tidak bisa membedakan yang mana yang merupakan bagian dari masa laluku atau imajinasiku, dan kadang aku secara tidak sengaja mencampuradukkannya. mungkin ini karena daya khayalku yang terlalu magis sehingga pertemuanku dengan kedondong menjadi sangat spektakuler, tapi begitulah yang ada dalam ingatanku. wallahua'lam.

tapi bukankah akan menyenangkan kalau pertemuanmu dengan orang yang kamu istimewakan terasa sangat berkesan hingga imajinasimu dengan sendirinya mulai membuat versi dream-like adegan pertemuanmu? ;)