Saturday, February 2, 2013

rasanya seperti menahan muntahan yang sudah bergejolak di dalam perut. atau seperti jantung pindah ke kerongkongan, berdenyut denyut di sana seperti sedang kelimpungan. dan jemari kaku kedinginan seperti lantai pada musim berhujan. aku ingin tidur tapi mata tak katup kecuali sekali dua kali saat mengambil nafas panjang-panjang untuk menahan air mata-atau sekedar emosi, aku tak tahu bedanya- agar tidak luap. aneh... lakuku aneh malam ini.

ingin kutuliskan perasaanku tapi aku justru memandangi pointer berkedap-kedip dengan tatap bisu, lalu pikiranku pergi lagi ke baris-baris kalimat itu. baris kalimat yang tadi kubaca di blognya karena aku memang sengaja menelusuri untuk mencari tahu-kepo kata orang. berulang ulang otakku membacakan kalimat-kalimat itu, lantang-lantang hingga menggema di rongga tengkorakku. gemanya kacau bersahut sahutan, saling tindih hingga aku tak lagi mengerti-memang faktanya tak tahu- apa arti kalimat itu.

bukannya dalam bahasa rusia atau belanda maka aku tak cerna kata-katanya. ini hanya... sedikit rumit untuk otak yang jarang pikirkan macam-macam hal. sedikit sulit untuk hati-bila hati bisa mengerti kata- yang tahunya hanya senang dan tidak terlalu senang. aku tidak paham maksud kalimat itu, dan aku benci atas ketidakpahamanku. karena semakin aku mencoba paham, semakin kusut pula simpul simpul gema dari kalimat kalimat itu.

sederhana saja kalimat dalam blognya itu. kalimat yang biasa saja untuk ditujukan pada teman dekat, tapi menjadi tidak biasa karena teman dekat itu bukan aku. menjadi tidak biasa karena aku mengetahui ada seorang lagi yang lebih dekat padanya dibandingkan kedekatanku padanya. menjadi membingungkan karena kini aku tidak tahu lagi di mana aku berdiri dalam lingkar sosialnya. di mana posisiku dalam pandangannya, di hadapannyakah? agak jauhkah? atau di belakang, tertutupi sosok orang lain?

aku rasa pikiranku tentang keberadaanku di balik punggung orang lain, melompat-lompat demi dia melihat aku, lalu cukup senang ketika dia sadar dan menyelipkan senyum atau sekedar "hai", telah merabunkan pandanganku dengan genangan air di sudut mata. yang mana bila sudah tak terbendung lagi akan mengalir di pipi dan berakhir di bibir atau dagu, lalu aku bisa merasakan rasa asin yang familier di lidahku ketika aku sedang dalam kondisi yang disebut sedih, maka kukerjapkan mataku, seperti wiper pada kaca mobil, menyeka tabir bening itu ke sisi, lalu pandanganku jelas kembali dan air rasa asin itu hanya merembes ke bulu-bulu mata, jadi aku tidak perlu membuat diriku bersedih.

lebay mungkin kata-kata yang cocok untuk diriku saat ini, tapi aku memang selalu sentimentil bila sudah menyangkut teman dekat. tapi daripada teman dekat, aku lebih suka memanggilnya teman istimewa. ia tidak menjadi teman dekatku karena kami berkenalan lalu banyak mengobrol lalu menjadi akrab. tapi ia mencapai kedudukan itu secara istimewa karena aku menyukainya. aku menyukainya karena aku perempuan dan dia laki-laki lalu ada sesuatu yang menarik dari dirinya jadi aku menyukainya. begitu saja.

kami memang berkenalan lalu mengobrol, dan menjadi akrab seperti proses berteman dekat dengan yang lainnya, tapi sejak awal dia sudah istimewa. dia sudah jadi teman istimewa sejak pertama kali kami berkenalan karena aku tahu kami tidak bisa jadi lebih dari sekadar teman. bahkan untuk ukuran teman dekat saja, aku belum cukup mengenalnya. seperti masih banyak hal yang tidak aku ketahui darinya, kami juga tidak terlalu banyak mengobrol, bertemu sangat jarang, dan tidak pernah ada jalan bareng atau ngerumpi bareng seperti dengan teman dekatku yang lain. dia teman istimewaku karena kami menjadi teman dekat dengan cara yang berbeda.

sewaktu kami sibuk dengan kuliah masing masing, kami jarang sekali berkirim pesan. paling hanya sekali-kali aku mengiriminya sms lalu setelah beberapa kali berbalasan percakapan berhenti begitu saja. karena kesibukanku aku pikir aku sudah tidak menyukainya sebanyak dulu, aku pikir sekarang oke bagiku bila kami memang makin menjauh. tapi rupanya tubuh mengingat lebih baik dibanding otak karena setiap kali ada pesan darinya jantungku berdebar dua kali lebih cepat lagi seperti dulu, dan kupu kupu di perutku hidup kembali-atau selama ini ia hanya hinggap tak bergerak menunggu mekarnya bunga lain.

ketika saat saat senggang seperti ini aku berfikir, apakah nanti ketika aku sudah dewasa, bekerja, bahkan memiliki suami, apakah aku akan masih merasakan hal yang sama? apakah aku masih akan tersenyum setiap membaca pesan darinya meskipun tidak ada yang lucu? atau menelusuri akun social media-nya setiap kulihat ia muncul pada timeline? sebaliknya, kalau aku tidak pernah mengenalnya, apakah sekarang aku akan sedang memikirkan teman dekat yang lain? apakah aku akan pernah merubah penampilan? apakah aku terus terusan akan menjadi orang yang canggung, jutek, sekaligus pemalu terhadap lawan jenis?

aku tidak peduli. tidak ingin peduli, tapi kalimat-kalimat itu terus bergaung-gema menenggelamkan pikiranku lagi pada hal yang sama...

No comments:

Post a Comment